RAGAM CERITA

5 Mei 2026

Dokter sakit dilarang intership!!!

Begitulah kesimpulan yang mudah ditarik ketika melihat tangkapan layar dari instruksi menteri kesehatan yang tersebar di berbagai grup. Sebelumnya izinkan saya mengucapkan bela sungkawa terhadap dr. Myta, dokter intership yang meninggal dunia dalam kondisi menunaikan tugas sebagai dokter di salah satu RS wilayah Jambi

Salah satu temuan yang didapatkan dari grup internship bahwasanya almarhumah menderita penyakit kronis sebelum masuk mengikuti kegiatan internship. Alhasil pihak penyelenggara cek kesehatan umum (medical check up) sontak mendapatkan teguran dan penalty berupa tidak dilakukan kerja sama untuk pemeriksaan calon dokter kedepannya. Sebelum kejadian ini sudah ada 3 dokter yang meninggal dalam kurun waktu 6 bulan terkait pelaksanaan internship di daerah masing-masing. Sebenarnya apa akar masalah penyebabnya?

Beberapa hal yang perlu diluruskan yang pertama terkait stigma dokter Gen-Z yang lembek, artinya dokter kelahiran 2000-an ke atas. Stigma ini jelas menghambat proses tukar ilmu dan kolaborasi dokter intership dengan sejawat antar profesi atau sejawat dokter definitif. Barrier mental ini tidak perlu digeneralisir karena seiring bertambahkanya jumlah fakultas kedokteran dan percepatan lulusan dokter tidak dipungkiri kurikulum FK semakin lama dibuat sepadat mungkin dengan mengedepankan asas kritis dan pendidikan berkelanjutan.  Dampak kebijakan ini seminimal mungkin diantisipasi dengan mengadakan ujian kompetensi kedokteran berbasis komputer dan praktek yang ketat. Namun harapan klinis dengan akademik baik dari skill maupun kompetensi tidak dapat bertemu karena apa yang diajarkan di kampus belum tentu dapat dipraktekan di lapangan, Dokter perlu memiliki naluri adaptasi dan seni dalam memanfaatkan kelebihan dan kekurangan yang ditemukan di lapangan. Baik dalam hal hardskill, softskill dan spiritual. 

Dalam prakteknya dokter lebih disibukkan dengan adaptasi kebijakan dan penguasaan program elektronik rekam medis demi tuntutan pelayanan kesehatan yang leg-artis dan menjunjung etika dan hukum kesehatan. Selain itu dokter lebih disibukkan dalam menjelaskan kriteria pasien jaminan kesehatan yang berpotensi menimbulkan protes dan ketidakpuasan pasien, alih-alih digoreng oleh LSM dan media sesat sebagai kasus penolakan. Ketakutan dan keseusahan dokter ini selayaknya ditangkap dan segera ditindaklanjuti oleh stakeholder dan perkumpulan sehingga masalah kematian dokter selama bertugas karena burnout dan overburden tidak menjadi hal lumrah kedepannya
Read More..

30 April 2026

Ketika Pejabat Menyampaikan Ide-nya didepan Publik


Pejabat adalah produk masyarakat
Ide adalah produk pikiran
Pernyataan di depan publik adalah produk dari tutur yang diperintah pikiran
Apakah brandy atau whisky? Semoga isinya Bismillah bukan kedua sebelumnya
Gaduh.
Read More..

Mengapa Program Studi Kampus yang Tidak Relevan Perlu dihapuskan? Kaitannya dengan Artificial Intelegence

Halo,
tahun 2026 menjadi tahun pertengahan kerja bapak Prabowo di era kepemimpinannya, (2024-2029), wajar jika gebrakan selalu muncul dari berbagai kebijakan menteri dan staf di kabinet beliau. Kali ini yang perlu saya komentari adalah kebijakan penghapusan program studi kampus yang dinyatakan tidak menyerap tenaga kerja secara maksimal (red: kurang populer)

Beberapa jurusan seperti keguruan dan pendidikan ekonomi dan sejarah statusnya rentan untuk tergantikan. Jurusan tersebut merupakan jurusan yang dalam pengembangan keilmuannya dianggap tidak memiliki inovasi dan update keilmuan. Terutama hal yang menyangkut analisis permukaan dan keilmuan yang bersifat turun menurun, rutinitas. Fenomena Artificial Intelegence (AI) yang mudah dijangkau kalangan membuat penalaran kritis keilmuan tersebut tumpul, cenderung tidak bertumbuh. Bantuan AI seperti Gemini, Grok, ChatGPT membuat penalaran sederhana dan penarikan kesimpulan dari berbagai referensi di dunia maya dapat dilakukan dalam hitungan menit, tanpa perlu bantuan search engine atau peng-index-an yang ekslusif bagi sebagian kalangan. Dalam dunia AI dikenal istilah "lazy prompting", atau yang dikenal memberikan perintah ke AI untuk mengerjakan suatu tugas mulai dari analisa sampai membuat kesimpulan hanya bermodalkan perintah sederhana. Kemudian perangkat yang terhubung dengan AI juga bisa dilakukan proses "berlatih" yaitu dengan cara memberikan prompt atau perintah secara berkesinambungan dalam sebuah topik sehingga AI beradaptasi dengan proses dan output dari informasi yang disajikan

Sebenarnya AI masih belum membahayakan karena sampai saat kekuatan AI dalam fase Language Learning Machine, jadi manusia masih memegang peran pentingnya, belum ke tahap automasi dan adaptasi berkelanjutan. Saya setuju dengan penghapusan program studi yang bias dan perkembangan keilmuannya dapat digantikan dengan mudah oleh AI. Bonus demografi yang akan didapatkan oleh negara Indonesia perlu ditangkap sebaik mungkin. Lulusan prodi yang tidak memiliki impact nyata seyogyanya perlu mendapatkan penalty minimal berupa tidak diakuinya sebagai pendidikan formal sehingga diturunkan menjadi sebuah ke-kursus-an.

Langkah seperti ini sangat diperlukan untuk mencegah generasi muda tidak terjebak dengan promosi "menipu" bahwa prodi tersebut masih menjanjikan lapangan pekerjaan yang jelas-jelas alumninya kebanyakan bekerja di bidang yang sama sekali tidak relevan dengan jurusan yang diambilnya

dr.wahyu
Read More..